Program Pascasarjana Unsoed

Padi Gogo Unggul Galur UNSOED G136

Posted by pascaunsoed pada 31 Maret 2009

Salah satu galur yang potensial untuk dijadikan varietas padi gogo unggul adalah UNSOED G136. Selama ini galur UNSOED G136 di tanam di lahan kering sebagai padi gogo. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Galur UNSOED G136 di tanam di sawah tadah hujan. Percobaan pertama penanaman galur UNSOED G136 di sawah tadah hujan sedang dilakukan di Desa Pangebatan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas. Dalam rangka Pengenalan Profil Padi Gogo Aromatik dan Uji Paket Budidaya pada hari Rabu 18 Maret 2009 diadakan panen padi gogo aromatic hasil uji coba UNSOED G136.

Indonesia memiliki lahan kering dengan luasan lebih dari 55,6 juta ha (Soedjana, 2005). Ini merupakan sumberdaya lahan yang dapat digunakan untuk budidaya padi gogo. Ada pertanyaan besar, kenapa dari 55,6 juta ha lahan kering baru dimanfaatkan 1,1 juta ha untuk produksi padi selama empat dekade terakhir ini ? Jawabannya adalah karena padi gogo kurang disukai petani.
Petani kurang menyukai padi gogo karena produktivitas dan mutu padi gogo masih rendah. Produktivitas padi gogo nasional baru mencapai 2,7 ton/ha jauh di bawah padi sawah yang mencapai 4,69 ton/ha. Mutu beras padi gogo yang tidak aromatik dan tekstur nasi pera, mengakibatkan padi gogo tidak disukai oleh petani dan konsumen sehingga nilai ekonomi padi gogo rendah. Hal tersebut mengakibatkan usaha tani di lahan kering dengan menanam padi gogo tidak menguntungkan sehingga petani malas menanam padi gogo. Akibatnya, luas lahan dan produktivitas padi gogo terhadap padi nasional tetap rendah.
Memang pada periode tahun 2001 – 2003 telah dilepas 4 varietas padi gogo yaitu Danau Gaung, Batutugi, Situ Patenggang, dan Situ Bagendit. Keempat varietas tersebut dinyatakan memiliki nasi pulen, tetapi hanya satu yang beraroma wangi, yaitu Situ Patenggang. Akan tetapi, dari keempat varietas tersebut masih berstatus non komersial (Deptan, 2008) dan baru varietas Situ Bagendit yang mulai disukai oleh petani. Namun demikian, Situ Bagendit lebih banyak di tanam sebagai padi sawah.
Upaya yang dilakukan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Purwokerto oleh Prof. Ir. Totok Agung D.H., M.P., Ph.D dan Ir. Suwarto, MS. telah menghasilkan galur padi gogo yang potensial untuk dilepas menjadi varietas padi gogo berdaya hasil dan kualitas hasil tinggi. Perakitan galur dilakukan dengan persilangan antara Varietas Poso dan Menthik Wangi serta resproknya. Selanjutnya Danau Tempe dan Menthik Wangi beserta resproknya. Mentik Wangi merupakan padi aromatik dengan rasa nasi pulen, sedangkan Poso dan Danau Tempe merupakan padi gogo berdaya hasil tinggi, toleran kekeringan, dan rasa nasi pera. Sampai saat ini telah diperoleh 9 galur potensial yang berdaya hasil tinggi dan aromatik (Totok dan Utari, 2005). Salah satu galur yang potensial untuk dijadikan varietas padi gogo unggul adalah UNSOED G136.
Galur UNSOED G136 memiliki keunggulan daya hasil tinggi, aromatik, pulen, dan kandungan proteinnya mencapai 13,0741%. Kandungan amilosa beras galur UNSOED G136 adalah 19,97% dan dapat digolongkan dalam kategori beras pulen. Pengujian kandungan protein menggunakan metode HPLC (Totok, 2007), dilakukan di Coastal Bioenvironment Centre, Saga University, Japan. Hasil yang diperleh menunjukkan bahwa kandungan protein Galur UNSOED G136 mencapai 13,0741%.
Galur tersebut telah dicoba di berbagai lokasi tanam. Melalui Konsorsium Padi Nasional, Galur UNSOED G136 ditanam Sumbawa, Lombok, Bali, Cilacap, Kulonprogo, dan Banjarnegara. Panen di Banjarnegara pada hari Jumat, 30 Januari 2009 menunjukkan bahwa produksi galur UNSOED G136 mencapai 5,23 ton/ha gabah kering panen. Panen di Kulonprogo pada hari Kamis, 12 Februari 2009, menunjukkan bahwa produksi galur UNSOED G136 mencapai kisaran 5,9 ton/ha gabah kering panen.
Galur UNSOED G136 juga telah dicoba di Kabupaten Purbalingga melalui Program Hibah Kemitraan DIKTI. Hasil panen pada hari Selasa, 17 Februari 2009, di Desa Candiwulan, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga menunjukkan bahwa, produksi galur UNSOED G136 mencapai 6,24 ton/ha gabah kering panen. Hasil panen pada hari Minggu, 22 Februari 2009, di Desa Tegal Pingen Kecamtan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga menunjukkan bahwa, produksi galur UNSOED G136 mencapai 5,4 ton/ha gabah kering panen.
Selama ini galur UNSOED G136 di tanam di lahan kering sebagai padi gogo. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Galur UNSOED G136 di tanam di sawah tadah hujan. Percobaan pertama penanaman galur UNSOED G136 di sawah tadah hujan sedang dilakukan di Desa Pangebatan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas.

3 Tanggapan to “Padi Gogo Unggul Galur UNSOED G136”

  1. trimy said

    alhamdulillah, sbg alumni unsoed sy sgt bangga, satu lagi kontribusi nyata untuk masyarakat luas tergulirkan. congratulation 4 Prof. Totok Agung…

  2. Tertarik sekali mendengar varitas baru ini.Kami dari negeri Laskar Pelangi Belitung Timur merupakan petani organik berupaya mencari benih aromatik yang unggul untuk berkolaborasi dengan varitas aromatik lokal.Kiranya mohon kerjasama dapat dijalin untuk kemajuan bersama.

  3. Benjani Saragih said

    selama ini para peneliti lebih fokus untuk pengembangan padi sawah, dengan adanya hasil padi gogo unsoed 136 tentu potensi lahan kering untuk padi gogo dapat menjadi pendukung ketahanan pangan. kampung halaman saya hampir seluruhnya merupakan lahan kering, jika ada sawah hanya sebagai sawah tadah hujan. untuk mengetahui keunggulan padi unsoed 136 di lahan kering seperti kampung halaman saya, perlu di yakinkan para petani disekitar kami yang selama ini tidak pernah mau mencoba jenis baru karena ada beberapa hal diantaranya informasi tidak sampai, padi gogo hanya dianggab sebagai tanaman konsumsi(bukan untuk komersil) karena jenis tanaman lain lebih menguntukngkan akibat produksi padi gogo lokal yang ditanam selama ini mempunyai produksi rendah, kesulitan untuk mendapatkan benih baru.oleh karena itu unsoed 136 dapat dijadikan merubah pola pikir petani terhadap keberadaan padi gogo selama ini.

    semoga padi gogo unsoed 136 memang menjadi awal perubahan perbaikan kesejahteraan masyarakat kita khususnya para petani padi gogo dan tadah hujan. terima kasih kepada para peneliti khusunya bapak Frof Ir Totok Agung DH MP PhD dan team.

    jika ingin pengembangan ke daerah kami ” kec silimakuta, kab simalungun sumatera utara” kami siap mendukung. terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: