Program Pascasarjana Unsoed

MENDIKNAS RI : “KALAU BUKAN UNSOED, SIAPA LAGI?”

Posted by pascaunsoed pada 31 Mei 2010

Pada pelantikan Prof.Drs.Edy Yuwono, Ph.D sebagai Rektor Unsoed periode 2010-2014, pada hari Rabu 28 April 2010, Mendiknas RI, Prof. Dr. MUHAMAD NUH , DEA dalam sambutannya, memberikan inspirasi untuk langkah Unsoed ke depan. Mengawali sambutannya dengan menganalogikan Perguruan Tinggi laksana seorang ibu yang sedang hamil.  “Sang ibu tentu berharap agar sang bayi yang akan dilahirkannya adalah sempurna tanpa menyandang kecacatan, namun apabila selama kehamilannya sang ibu mengalami kekurangan asupan gizi, sentuhan kasih sayang dari suami dan keluarga tidak kunjung dirasakan, bahkan kekerasan dan pelecehan dialaminya secara harian, maka bayi yang dilahirkannya sangat berpotensi memiliki kecacatan fisik bahkan juga kecacatan mental”.

Mendiknas mengatakan bahwa, demikian juga perguruan Tinggi,  apabila dalam kehidupan akademiik dan kampusnya, fasilitasnya serba kekurangan dan tidak terkelola dengan baik, proses belajar mengajar tidak mampu mengeksplorasi potensi intelektualitasnya, interaksi sosial antar sivitas akademika tidak didasarkan atas nilai kasih sayang, saling harga menghargai, hormat menghormati, tetapi justru kekerasan dan anarsitas yang menjadi budaya dan tradisi, maka bisa jadi kampus akan melahirkan generasi yang mengidap kecacatan sosial atau sosio idiot yaitu generasi yang tercerabut nilai kesantunan dan kesopanannya.  Tidak memiliki pati, simpati dan empati, dia hanya asyik dengan dirinya sendiri.  Disamping sosio idiot, bisa juga kampus akan melahirkan generasi yang tidak memiliki kemampuan teknis, atau tecnikal idiot, yaitu generasi yang kehilangan kepenasaranan intelektualnya, daya intelektual dan inovatifnya, dan kehadirannya justru menambah beban dan persoalan bagi bangsa ini.

Mendiknas juga menyampaikan bahwa dengan mengambil inspirasi, nilai-nilai, pelajaran-pelajaran yang telah diteladankan oleh Jenderal Soedirman, Unsoed insyaAlloh mampu memerankan sebagai mesin transformasi yang membawa bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas, santun, sejahtera, bermartabat, dan mampu bersaing dengan bangsa manapun.  Menurut Mendiknas, komitmen civitas akademika untuk menjadikan unsoed sebagai pelopor dalam pembangunan pedesaan berkelanjutan adalah ladang perjuangan yang sangat unik dan mulia dan sangat dinantikan oleh bangsa ini.

“Seperti kita ketahui, bahwa salah satu persoalan utama yang dihadapi dan harus diselesaikan oleh bangsa ini ke depan adalah pengentasan kemiskinan sebagai bagian dari komitmen untuk mensejahterakan bangsa ini.  Dan insyaAlloh, dengan jiwa dan semangat, tradisi dan budaya yang dimiliki oleh Universitas Jenderal Soedirman beserta seluruh keluarga besarnya, Unsoed bisa tampil ke depan, mempelopori pengentasan kemiskinan.  Kalau bukan Unsoed, siapa lagi”, demikian ditegaskan Mendiknas.

Berkenaan dengan langkah ke depan, Mendiknas menyampaikan “Kalau ada dua orang berserikat untuk kebaikan, maka Alloh yang ketiga (pertolongan Alloh maksudnya), kalau ada tiga orang yang berserikat untuk kebaikan, maka Alloh yang keempat, selama diantara mereka tidak ada yang khianat”. Oleh karena itu, menurut Mendiknas RI, kebersamaan menjadi mutlak jika kita ingin membangun sesuatu yang didasari oleh kebaikan dan kemuliaan. Teori fisikanya, Lanjut Mendiknas, “kalau kita memiliki vektor-vektor tetapi vektor-vektor tadi itu tidak konfergen, maka resultante dari vektor itu bisa jadi zero bahkan negatif, kalau diantara kita melakukan kegiatan yang satu arahnya kesana yang satu arahnya kesana, seakan-akan semuanya bergerak, semuanya berjuang, tetapi karena tidak konvergen, maka unsoed bisa jadi jalan ditempat, bahkan bisa jadi mengalami kemunduran”.  Oleh karena itu, kebersamaan menjadi syarat mutlak.

Mendiknas RI menutup sambutannya dengan mengutip tulisan Imam Syafi’I “ Aku mencintai orang yang saleh meski aku bukan golongan mereka, aku hanya berharap syafaat Alloh dengan mencintai mereka.  Aku membenci orang yang berbuat dosa, meski aku dan mereka, sama saja”.  Menurut Prof. Muhamad Nuh, Itulah cinta yang dibungkus kerendahan hati.  (unsoed.ac.id)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: