Program Pascasarjana Unsoed

UNSOED KUKUHKAN DUA ORANG GURU BESAR

Posted by pascaunsoed pada 5 Mei 2011

Rektor Unsoed, Prof. Edy Yuwono, Ph.D mengukukan Prof.Dr. Paulus Israwan Setyoko, MS dan Prof.Dr.Agus Suroso, MS sebagi  Guru Besar Universitas Jenderal Soedirman, Kamis 28 April 2011 di Gedung Soemardjito. Prof.Dr.Paulus Israwan,MS menjadi Guru Besar yang ke empat di FISIP Unsoed dan yang ke 45 di Unsoed, sedangkan Prof.Dr.Agus Suroso,MS menjadi Guru Besar ke 10 di Fakultas Ekonomi dan yang ke 46 di Unsoed.

Menjadi Guru Besar adalah ibarat menjadi seorang begawan, demikian kata Rektor Unsoed Prof Edy Yuwono.  Dengan demikian menjadi Guru Besar berarti juga menyiapkan diri untuk menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat.

Prof.Dr.Paulus Israwan,MS menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul “Administrasi Negara dan Kebijakan Publik : Mewujdkan Keadilan Sosial melalui Proses Deliberatif”.  Kata ‘Deliberatif’ dapat juga disamaartikan dengan ‘Musyawarah untuk mufakat’.  Israwan mengatakan bahwa salah satu tantangan terbesar demokrasi  saat ini adalah bagaimana menjamin penghormatan terhadap hak-hak warga negara dan mengakomodasi keanekaragaman yang ada dalam masyarakat.  Pada awalnya praktik demokrasi deliberatif sering elitis dan hanya melibatkan sekelompok warga negara yang terdidik untuk berpartisipasi.  Kebijakan publik yang terbaik terjadi ketika para ahli dan warga negara terlibat dalam dialog yang berlangsung di ruang publik.

Kebijakan publik deliberatif dengan cara memberikan peluang dan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat dalam perumusan kebijakan, merupakan alat utama untuk membangun kebijakan publik yang berkeadilan sosial.  “Musrenbang yang selama ini telah digunakan dalam penjaringan dan penyaringan aspirasi masyarakat untuk menyusun kebijakan pembangunan haruslah dipertahankan”, demikian lanjut Israwan.  Dikeluarkannya Inpres Nomor 1 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang berkeadilan akan terwujud apabila para pemimpin negeri ini baik pusat maupun daerah, menyadari pentingnya kebijakan publik deliberatif dan memahami bahwa : pertama, Saat ini kekuasaan telah bergeser dari otoritas tunggal pemerintah ke beberapa agen diluar pemerintah, yaitu kelompok-kelompok yang adadalam masyarakat. Kedua, Kebijakan publik deliberatif menggeser pola interaksi, relasi, dan komunikasi dari model hirarkhis dan top down kepada bangunan relasi yang bersifat kesetaraan.Ketiga, Semangat yang sebaiknya hidup dalam membangun kebijakan deliberatif adalah opinion of the poor.  Perhatian terhadap masyarakat kecil, minoritas, tertindas dan miskin menjadi prioritas dalam pembuatan setiap kebijakan publik. Keempat, Kebijakan delliberatif hendaknya juga dijiwai semangat solidaritas baru, artinya kebijakan yang dibuat tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan masyarakat saat ini, tetapi hendaknya juga berlaku untuk generasi yang akan datang.

Prof. Dr. Agus Suroso, MS  pada kesempatan yang sama menyampaikan pidato pengukuhannya dengan judul “Not Red Not Blue but Purple Ocean Strategy”Red Oceandalam hal ini bisa diartikan suatu peperangan dalam kondisi pasar yang sudah mapan dimana dalam pertarungan harga dalam industri yang sama sudah banyak pelaku yang bermain. “Dalam memenangkan persaiangan pastilah tidak mudah sebab masing-masing pelaku saling kejar mengejar bahkan diferensiasi value produkpun ikut luntur karena kompetitor yang lain saling meniru.  Seperti misalnya industri seluler gsm yang saling banting harga”. Demikian kata Prof Agus

Blue Ocean Strategymenurut Prof Agus adalah strategi taking position as a leader in innovation, yaitu pemasar menciptakan suatu kategori baru dengan aturan main yang baru dan menawarkan costumer value yang lebih tinggi.  Sementara itu purple ocean strategy adalah merupakan kombinasi diantara red and blue ocean strategy.  Strategi ini bisa dijalankan dengan mengajak kompetitor untuk sama-sama mengedukasi market yang baru.  Menurut Prof Agus, strategi ini cocok diterapkan di Indonesia.  Purple ocean adalah strategi perusahaan dalam membidik konsumen hybrid.  Perusahaan tetap mempertahankan strategi offline.  Mereka masih tetap melayani pelanggan dan konsumen dengan cara-cara tradisional.  Pada saat yang bersamaan, mereka mengembangkan saluran distribusi untuk membidik konsumen yang sudah terbiasa online.  Jadi, satu kaki tetap di red ocean satu kaki di blue ocean.

Acara pengukuhan ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Dra Rustriningsih, M.Si,Rektor Unikal, Bupati Wonosobo Drs. H.A. Kholiq Arief, M.Si, Dandim Purwokerto, Perwakilan Polres Banyumas, Para Guru Besar Tamu, Para Anggota Senat Universitas Jenderal Soedirman, Keluarga Prof Israwan dan Prof Agus, serta dosen dan karyawan dari Fakultas ISIP dan Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman.(hp) http://www.unsoed.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: